Kisah lain juga, ketika sedang berthawaf, tiba-tiba orang tersebut melihat perempuan, tiba-tiba muncul tangan dari udara dan menampar matanya. Lalu muncul suara, “Engkau memandang kepada selain Kami dengan matamu, maka Kami menampar matamu. Manakala kamu memandang dengan hatimu kepada selain diri-Ku pasti akan Aku colok matamu dengan api.”
Dzun Nun al-Mishry ra mengatakan, “Siapa yang memandang dari tauhidnya menuju dirinya, tauhidnya tidak akan selamat dari neraka. Siapa yang berpaling dari Allah ketika sholat, ia telah turun dari derajat orang yang sholat. Siapa yang berpaling dari waktu-Nya ke waktu dirinya, maka sang waktu sirna tanpa ia merasa.”
Dalam hadits disebutkan, “Hamba, manakala berpaling dalam sholat, Allah Swt berfirman, “Hamba-Ku, apakah engkau berpaling pada yang lebih baik dibanding Aku? Menghadaplah! Jangan kau palingkan wajahmu dari Diri-Ku, sebab itu bisa membuat-Ku berpaling darimu.”
Nabi Saw, bersabda, “Jibril datang kepadaku membawa kunci perbendaharaan dunia, namun aku sama sekali tidak berpaling padanya dan aku tidak menghadapnya.” Ditanyakan pada salah seorang Sufi, “Bagaimana kabarmu saat tadi pagi?” Ia menjawab, “Sejak dini – sungguh dua alam (dunia dan akhirat) – terhalang dariku, dan Dia menghalangiku untuk memandang keduanya.”
Al-‘arif as-Sary as-Saqathy ra mengatakan, “Saya pernah mencari sahabatku selama tiga puluh tahun. Dan aku tidak menemukannya. Suatu hari, ketika aku lewati sebuah bukit , tiba-tiba kawanku itu berdiri di atas batu, lalu aku mendekatinya, aku tarik ujung pakaiannya. Lalu ia berkata, “Tinggalkan aku Sary, karena Allah bisa cemburu. Karena Dia tidak akan memandangmu jika engkau masih memandang yang lain, hingga engkau gugur dari pandangan-Nya.”
Kisah tentang Rabi’ah Adawiyah ra ketika sedang berjalan menuju Makkah, tiba-tiba ada lelaki menghadapnya, sembari berkata, “Hai perempuan, seluruh dirimu dengan kesemuanya begitu sibuk?” (sebuah rayuan, pent).
Rabi’ah menjawab, “Kalau kamu benar, maka keseluruhanku bagi dirimu telah terkorbankan. Kecuali saya punya saudari yang lebih elok dariku, dan ia ada di belakangmu.” Lelaki itu seketika menoleh, lantas Rabi’ah menampar muka laki-laki itu, sembari berkata, “Begitu mudah engkau berpaling dariku wahai peselingkuh? Engkau mengaku mencintaiku lantas kamu memandang selain diriku? Aku melihatmu dari jauh, lalu aku berkata, “Wah, aku menemukan orang yang ‘arif, tapi ketika anda bicara, aku berkata pada diri sendiri, “Aku berjumpa dengan orang yang kasmaran, dan ketika kutarik dirimu kulihat dirimu adalah pendusta!”
“Aku tidak melihatmu dari pilihan kaum ‘arifin dan harga diri mereka,” lanjut Rabi’ah, “juga aku tidak melihatmu sebagai penempuh jalan pecinta dan perlindungan-Nya.”
Lelaki itu langsung berteriak keras, dan menghaburi wajahnya dengan debu, lalu berkata, “Aku mengundang cinta sesama makhluk, lalu aku berpaling dari-Nya, kemudian tamparan mengena di wajahku! Sungguh aku takut untuk merasa mencintai Sang Khaliq, manakala hatiku berpaling dari-Nya, pastilah Dia menampar hatiku!”
Mengenai berpalingnya qalbu, dikisahkan oleh Fath al-Maushily, dimana beliau punya seorang putra kecil. Suatu hari ia ciumi dan peluk anak itu, lalu dari cakrawala muncul suara, “Hai Fath, kamu mengaku mencintai-Ku, sedang di hatimu ada cinta lain selain Diri-Ku?” Tiba-tiba Fath berteriak dan pingsan.
Suatu hari Rabi’ah al-Bashriyah melihat Rabah al-Qaisy, ia sedang mencium seorang bocah dari keluarganya.
“Kau mencintainya?” Tanya Rabi’ah
“Ya, benar.”
“Kau tidak menduga bahwa di hatimu masih ada ruang kosong untuk mencintai selain Dia?”
Al-Qaisy terkejut lalu menjerit pingsan. Ketika ia siuman, ia mengusap keringat yang menetes di wajahnya.
Nabi Saw, bersabda:
“Seandainya aku harus memilih sahabat tercinta selain Tuhanku pastilah aku memilih Abu Bakr ash-Shiddiq, namun itu sebatas persaudaraan dan kecintaan dalam Islam.”
Dikisahkan bahwa Nabi Dawud as, dalam suatu perjalanan bertemu dengan seorang lelaki yang bertanya, “Kamu mau kemana?”
“Aku sangat takut dengan massa manusia, dan aku ingin berbahagia bersama Allah,” jawab Nabi Dawud as.
“Apakah motivasimu itu datang dari dirimu atau dari Allah?”
Akhirnya Nabi Dawud jatuh pingsan mendengarnya, dan ketika sadar ia berkata, “Semoga Allah memperingatkan dirimu sebagaimana dirimu memperingatkan aku.”
Sebagian Sufi berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kaum Musa As untuk memotong kepala mereka ketika mereka bersujud pada anak sapi, setelah mereka sujud pada Allah Ta’ala.”
Allah berfirman, “Kepala yang bersujud pada-Ku, kemudian sujud pada selain Diri-Ku, sungguh tidak layak bagi-Ku. Begitu juga qalbu….’
Nabi Dawud as berkata, “Aku diberi sesuatu sebagaimana manusia yang lain, dan aku diberi yang tidak diberikan kepada mereka. Aku pun diberi hasrat sebagaimana mereka, dan hasrat yang bukan sebagaimana mereka punya. Lalu kutemukan bahwa segalanya hanya bagi Allah semata, dan segala perkara ada di Tangan Allah Ta’ala. Dan kesimpulannya dari dunia dan akhirat serta seisinya adalah: Allah.”
Maka tidak layak bagi orang yang mengaku mencintai-Nya, namun di hatinya masih ada selain Dia,
Maka Rabi’ah bersyair:
Wahai kekasih hati, siapa lagi selain Engkau?
Kasihanilah pendosa yang telah datang pada-Mu
Wahai Kekasihku, beningku dan harapanku
Hati dusta jika mencintai selain Diri-Mu
Wahai mesraku, harapan dan hasratku
Betapa panjang rinduku
Kapan bisa bertemu
dengan-Mu?



