Ragam Istidroj
Yahya bin Mu’adz ra mengatakan:
Wahai orang yang tertutup oleh kenikmatan dan perlindungan, janganlah anda terjebak. Karena dibalik itu ada dampak buruk kepedihan. Janganlah terjebak oleh waktu-waktu yang anda penuhi ibadah, karena dibalik itu ada bencana-bencana lembut. Dan jangan pula terjebak oleh sucinya ‘Ubudiyah, karena dibalik itu anda malah lalai kepada Rububiyah.
Masalahnya seperti apa yang dikatakan oleh beliau: Wahai, betapa banyak orang yang ter-istidroj oleh kebajikan, betapa banyak orang ter-istidroj pujian padanya, betapa banyak yang tertimpa istidroj oleh fitnah kenikmatan, betapa banyak yang hancur oleh tirai seakan-akan elok baginya.
Karena itu siapa pun yang dalam batinnya tidak bersiteguh dengan Allah Ta’ala, maka dzohirnya jelas, bahwa keragu-raguannya lebih kuat daripada yaqinnya, walaupun dzohirnya menujukkan sifat-sifatnya orang yang yaqin. Ia kehilangan cahaya batin karena terpesona oleh gerak-gerik dzohir. Ia alpa dari rumitnya dampak Istidroj karena terlalu memandang suci ubudiyahnya.
Bagi orang yang tertolong oleh Allah jangan berpegang teguh selain Allah, dan bagi yang terhinakan jangan putus dari harapan.
- Istidrojnya aktivis dosa adalah menikmati dosanya dan terus menerus berdosa, disamping berpaling dari Allah Ta’ala.
- Istidrojnya ilmuwan adalah upayanya mencari derajat dan posisi di tengah massa.
- Istidrojnya ahli Ijtihad adalah memperbanyak dan mengagumi hasil Ijtihadnya.
- Istidrojnya para murid (penempuh) adalah terpakunya pada anugerah dan karomah serta terpaku pada keduanya.
- Istidrojnya kaum ‘arifin (ahli ma’rifat) adalah merasa cukup dengan kema’rifatannya bukannya kepada Allah yang dima’rifati, hingga mereka anggap ma’rifatnya sebagai tujuan finalnya, dan mereka merasa telah mencapai kema’rifatan itu sendiri.
- Siapa pun yang posisinya tinggi, maka Istidrojnya lebih besar serta lebih lembut.
- Betapa banyak orang yang berdzikir tetapi sesungguhnya alpa pada Allah Swt.
- Betapa banyak orang yang takut sesungguhnya ia berani kepada Allah Swt.
- Betapa banyak orang yang mengajak menuju Allah, sesungguhnya ia jauh dari Allah Swt.
- Betapa banyak yang membaca Kitabullah sesungguhnya ia terlepas dari ayat-ayat Allah Swt.
Abu Sa’id al-Kharraz ra mengatakan:
• Bila aku tinggalkan dunia dan aku merasa bangga telah mampu meninggalkannya, maka rasa bangga itu lebih besar dosanya ketimbang menyimpan dunia.
• Bila aku bisa meninggalkan aib-aib nafsu dan aku kagum bisa meninggalkannya, maka kagum itu adalah aib terbesar.
• Bila anda berjuang dan bergantung pada wujud perjuanganmu, maka ketergantunganmu itu adalah resiko besar dari pada istirahat.
• Bila anda takut pada Allah Ta’ala dan anda merasa aman dengan rasa takut, maka aman yang muncul dari rasa takut itu lebih besar dosanya.
• Memandang kedekatan kepada Allah Ta’ala dalam aktivitas taqarrub adalah jauh yang sebenarnya.
• Memandang kemesraan dalam aktivitas kemesraan adalah lebih besar untuk dijauhinya.
• Melihat dzikir dalam aktivitas dzikir adalah kealpaan terbesar.
• Melihat ma’rifat dalam kema’rifatan adalah kemungkaran terbesar.
Seorang ahli ma’rifat mengatakan, “Ketika aku menyangka aku telah menemukanNya, pada saat yang sama aku telah kehilangan Dia.
Ketika aku menyangka aku kehilangan Dia, saat itu aku menemukanNya.
Oh Tuhanku, ketika aku meninggalkanMu Engkau mencariku. Ketika aku mencariMu Engkau menolakku.
Padahal tak ada tempat kecuali bersamaMu, juga tak ada kebahagiaan selain Engkau. Sungguh Engkaulah tempat pertolongan, dan hanya menuju kepadaMu.”
Abu Ya’qub ra mengatakan, “Yang paling bodoh dilakukan hamba kepada Allah Ta’ala, manakala si hamba merasa cukup dengan ma’rifatnya di dunia ini.
Yahya bin Mu’ad ra, mengatakan, ”Dosa yang membuatmu sangat butuh kepadaNya itu lebih baik dibanding taat yang membuatmu bangga atas taatmu padaNya.”
Fudhail bin Iyadh ra, adalah tokoh yang banyak menangis dan sering mengulang ayat ini:
“Dan tampaklah kepada mereka (berupa kebajikan) dari Allah apa yang tidak pernah mereka lakukan kepada Allah”.
Beliau katakan, “Mereka melakukan amaliah yang banyak, dengan menyangka bahwa itu semua adalah kebajikan, dan ternyata adalah keburukan, ketika tampak dari Allah bahwa mereka belum sama sekali berupaya berbuat baik.”
Anak-anak sekalian….
Ma’rifat itu kokoh dan tertanam. Kokoh dalam hati para waliNya, dan tertanam di hati musuh-musuhNya pada mulanya, kemudian dicabut di akhirnya. Bagi orang yang mendapatkan pertolongan, janganlah terpaku pada pertolongan itu sendiri dan merasa aman dari cobaanNya, begitu juga orang yang terhinakan jangan sampai putus asa dari rahmat Tuhannya. Kadang seseorang bermimpi indah tentang seseorang, padahal itu adalah Istidroj dari Allah Ta’ala. Sebagaimana lelaki dari penduduk Syam mendatangi Al-Ala’ bin Ziyad, dan mengatakan, “Semalam aku bermimpi tentang dirimu, seakan-akan anda ini ahli syurga.” Lalu al-Ala’ meninggalkan majelisnya dan menangis, sembari berkata, “Sungguh, siapa tahu ini cobaan dari Allah!”
Asal usul Istidroj Lupa pada Allah Ta’ala
Dikatakan, “Sumber Istidroj adalah lupa pada Allah Ta’ala, merasa cukup dengan selain Allah Ta’ala, bergantung dengan selainNya dan berpaling dariNya menuju lainNya.”
Tidak bisa disebut sebagai orang yang mendalami hakikat ma’rifat, hanya karena ia terjebak oleh banyaknya amal ibadah dan ilmu pengetahuan. Sebab Iblis pun pernah jadi gurunya malaikat, namun pada akhirnya ia memandang kehebatan dirinya dan ibadahnya. Lalu ia meninggalkan perintah Allah, sehingga ia termasuk kalangan yang terlaknati, yang terlempar dari Allah selamanya.
Makanya, hati-hati, jangan terjebak oleh sikap merasa sibuk beribadah, merasa suci jiwanya, sebab Barshish seorang yang kufur pada Allah setelah beriman, dan Bal’am keduanya adalah paling ahli ibadah di zamannya dan paling bagus perilakunya. Namun di akhir hayatnya malah memandang diri sendiri dan hawa nafsunya, lalu keduanya terhinakan di dunia dan di akhirat. Jangan anda terpedaya hanya karena anda bergaul dengan orang-orang saleh dan ahli zuhud, tanpa anda sendiri mengikuti jejak mereka. Sebab bergabung dalam keakraban, seandainya bermanfaat, pastilah isteri Nabi Nuh meraih manfaat, begitu juga isterinya Nabi Luth. Karena jebakan tipudaya itu salah satu tangga dari tangga Istidroj.
Allah Swt, berfirman:
“Janganlah kalian terjebak tipudaya kehidupan dunia dan jangan terjebak tipudaya diri kalian karena (merasa) bersama Allah.”
“Wahai manusia apa yang memperdayaimu sehingga kamu mendustai Tuhanmu?”
Syetan mendatangi ahli zuhud lalu mengatakan:
“Hai waliyullah, hai orang yang terbaik dari kalangan manusia, lihatlah anugerah dan karomah yang diberikan Tuhanmu, taqarrub dan kemesraan dariNya! Tidak ragu lagi, malaikat memandang gerak-gerikmu dan diammu, kebaikan perilaku hatimu, dan engkau lebih hebat dari siapa pun di eramu, manusia mana pun tidak pernah melupakan anda.” Nah, sampai akhirnya berbagai godaan dan tipudaya syetan. Jika saja Allah Ta’ala melimpahkan karunia dan rahmatNya, dan membuka matanya atas rekayasa musuh-musuh-Nya, dan ia naik ke derajat dengan rahasia batinnya menuju hamparan QudratNya, maka selamatlah ia dari tangga Istidroj yang berliku. Ketahuilah, hati kaum pecinta senantiasa dicemasi oleh datangnya Istidroj seperti sebuah gelombang samudera, hingga seluruh dirinya benar-benar bersama Allah dan hanya bagi Allah Ta’ala. Saya pernah melihat sebuah syair dalam satu tongkat:
Setiap dosa ada ampunan bagimu
Selain dosa berpaling dariKu.
Kukatakan:
Bila aku berpaling, aku bertobat
Aku kembali sambung seperti semula
Tak ada dosa selain aku
Memandang diri dalam cinta
Lalu aku tersiksa.




