Ilmu Ladunni itu Hanya Bagi Mereka Yang Suci

Apakah definisi ilmu ladunni itu hanya dilihat dari cara perolehannya saja, ataukah dapat juga dilihat dari segi obyek pengetahuannya?
Sejauh yang saya baca dari tulisan Ibnu Arabi dan al-Ghazali, keduanya cenderung melihatnya dari segi cara perolehannya. Maka sebenarnya, menurut mereka, ilmu ladunni itu bila ditinjau dari cara perolehannya hampir sama dengan wahyu, hanya tentu saja tingkatannya di bawah wahyu.

Harus dibaca juga..

Jadi perbedaan antara ilmu ladunni dengan wahyu?
Perbedaannya jelas, kalau wahyu itu kan hanya untuk mereka yang ditunjuk sebagai nabi dan atau rasul. Sementara ilmu ladunni adalah dunia walayah atau kewalian yang personnya tidak ditentukan. Jadi siapa saja yang kualitas hatinya sudah sangat suci sehingga mencapai derajat wali atau sufi, maka atas idzin Allah dia akan (berpeluang) memperoleh anugerah berupa ilmu ladunni. Selain itu, apabila wahyu yang dianugerahkan kepada para rasul itu mutlak harus disampaikan kepada ummat, sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui ilmu ladunni tidak mutlak harus disampaikan kepada ummat.

Apakah karena alasan yang terakhir itu sehingga Ibnu Arabi menyebutnya juga dengan istilah ilmu asrar? 
Ya, diantaranya seperti itu. Dengan demikian, meski ilmu ladunni itupun bersifat mutlak kebenarannya karena memang berasal dari Yang Maha Benar, tetapi terhadap wali atau sufi yang memperolehnya tidak dibebankan kewajiban untuk menyampaikan  pengetahuan tadi kepada orang lain.

Tapi, bukankan Islam telah mewajibkan kepada ummatnya untuk berdakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing?
Ya itu benar.  Tetapi apa yang harus  didakwahkan oleh para wali atau sufi itu bukan apa yang diperolehnya melalui ilmu ladunni tadi, melainkan risalah umum yang telah disampaikan kepada Nabi Muhammad. Dengan kata lain, apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada ummat manusia itulah yang harus mereka dakwahkan. Nah dalam konteks Rasulullah, apa yang beliau sampaikan kepada ummat manusia itu adalah risalah. Selain risalah, beliau juga memiliki nubuwwah yang bersifat khusus dan personal sehingga tidak beliau sampaikan kepada sembarang orang. Beliau hanya menyampaikan aspek nubuwwah itu kepada orang-orang tertentu saja, seperti kepada Uwais. Karena itu, Uwais ini memiliki pengetahuan-pengetahuan khusus yang bahkan para sahabat utama Nabi sendiri tidak mengetahuinya. Analog dengan nubuwwah, itulah ilmu ladunni yang dianugerahkan Allah secara langsung dan khusus kepada hamba-hambanya yang suci.

 

Mengapa ilmu ladunni tidak boleh disampaikan secara begitu saja kepada ummat?
Sebab itu tadi…  ilmu ladunni itu berada dalam dataran dunia walayah atau kewalian yang sifat pengetahuannya itu begitu khusus dan sublim. Bila ini disampaikan juga, jangan-jangan malah bisa menyesatkan orang lain. Dengan demikian, bila ada orang yang mengklaim mendapat ilmu ladunni, dan lantas dia mengobral pengetahuannya itu kepada sembarang orang, saya kira itu patut diragukan kebenarannya. Sebab sebagaimana tadi sudah disinggung, anugerah ilmu ladunni itu kan hanya dimungkinkan bagi mereka yang hatinya sudah suci. Karena itu mereka yang memperoleh ilmu ladunni pasti orangnya itu sangat arif. Orang yang arif itu kan dapat mengantisipasi tingkat kemadlaratan bagi orang lain. Jika pun ada dari kalangan sufi yang terekspos, sehingga mengundang kontroversi, itu boleh jadi ulah para murid atau pengikut-pengikutnya.

Jadi, jika pengetahuan yang diperoleh secara ladunni itu kemudian diekspos ke orang lain bisa-bisa akan menimbulkan fitnah?
Ya. Bila orang yang mendengar ilmu ladunni tadi belum siap menerimanya, dalam arti kemampuan atau tingkat kesucian hatinya biasa-biasa saja serta pengalaman spiritualnya masih terbatas, ya akibatnya bisa repot.

Jika ilmu ladunni hanya bagi mereka yang suci, lalu bagaimana dengan pengetahuan yang dianugerahkan secara langsung oleh Allah  kepada ummat Islam pada umumnya?
Itu mungkin namanya bukan ilmu ladunni, melainkan ilham. Sebab berbeda dengan ilmu ladunni, ilham itu bisa diberikan kepada siapa saja.

Apa perbedaan yang substansial antara ilmu ladunni dengan ilham?
Ilmu ladunni itu, sebagaimana ditegaskan Ibnu Arabi, sifatnya mutlak benar. Sedangkan ilham itu bisa benar tapi bisa juga salah, sebagaimana ditegaskan dalam  surat Asy-Syams ayat 7: “Kami ilhamkan kepada manusia jalan kefasikan dan ketakwaannya.” Jadi yang diilhamkan itu bisa dua, yaitu fujuraha sebagai representasi dari ilham yang salah; dan wataqwaha yang mengacu pada ilham yang benar. Bahkan dalam ayat selanjutnya dinyatakan bahwa beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, karena itu mereka berhak mendapatkan ilham yang benar. Sebaliknya, merugilah orang yang mengotori jiwanya, karena itu mereka berhak atas ilham yang salah.

Lantas bagaimana untuk dapat mengetahui apakah suatu ilham itu benar ataukah salah?
Ya tinggal introspeksi diri saja, sejauh mana kondisi atau kualitas hati kita pada saat itu. Sejauh mana pula hati kita itu terpaut pada Allah. Singkatnya, ilham itu bisa benar dan bisa juga salah sangat tergantung pada kualitas hati orang yang bersangkutan.

Selain al-Qur’an, apakah ada hadist yang menyinggung soal ilmu ladunni?
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nuaim, Barangsiapa mengamalkan ilmunya, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum dia ketahui. Nah, hadist ini bila dipahami maknanya secara mendalam, maka kandungannya mengarah pada ilmu ladunni yang tadi kita jelaskan. Tapi pengertian mengamalkan ilmu yang dimaksud dalam hadits ini tentunya bukan sekedar amaliah formal, melainkan amal yang mengandung kedalaman aspek batiniyahnya. Karenanya… ya itu tadi! Ilmu ladunni itu erat kaitannya dengan kualitas hati. Jadi, semakin suci kualitas hati seseorang, maka dia akan semakin berpeluang mendapat ilmu ladunni. ***

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.