Biografi Dzunnun Al-Misry

Harus dibaca juga..

Pujian Para Ulama’ Terhadap Dzunnun

Tidak ada maksud paparan berikut ini supaya Dzunnun al-Misri menjadi lebih terpuji.Sebab apa yang dia harapkan dari pujian makhluk sendiri ketika Yang Maha Sempurna sudah memujinya. Apa artinya sanjungan berjuta manusia dibanding belaian kasih Yang Maha Penyayang? Dan hanya dengan harapan semoga semua menjadi hikmah dan manfaat bagi semua paparan berikut ini hadir.

Imam Qusyairy dalam kitab Risalah-nya mengatakan “Dzunnun adalah orang yang tinggi dalam ilmu ini (Tasawwuf) dan tidak ada bandingannya. Ia sempurna dalam Wara’, Haal, dan adab”. Tak kurang Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al-Jalak mengatakan “Saya telah menemui 600 guru dan aku tidak menemukan seperti keempat orang ini: Dzunnun al-Misry, ayahku, Abu Turob, dan Abu Abid al-Basry”. Seperti berlomba memujinya sufi terbesar dan ternama Syaikh Muhiddin ibn Araby Sulton al-Arifin dalam hal ini mengatakan “Dzunnun telah menjadi Imam, bahkan Imam kita.”

Pujian dan penghormatan pada Dzunnun bukan hanya diungkapkan dengan kata-kata. Imam al-Munawi dalam Tobaqoh-nya bercerita : “Sahl al-Tustari (salah satu Imam tasawwuf yang besar) dalam beberapa tahun tidak duduk maupun berdiri bersandar pada mihrab. Ia juga seperti tidak berani berbicara. Suatu ketika ia menangis, bersandar dan bicara tentang makna-makna yang tinggi dan Isyarat yang menakjubkan. Ketika ditanya tentang ini, ia menjawab “Dulu waktu Dzunnun al-Misri masih hidup, aku tidak berani berbicara tidak berani bersandar pada mihrab karena menghormati beliau. Sekarang beliau telah wafat, dan seseorang berkata padaku padaku : berbicaralah!! Engkau telah diberi izin”.

Cinta dan Ma’rifat

Suatu ketika Dzunnun ditanya seseorang : “Dengan apa Tuan mengetahui Tuhan?” “Aku mengetahui Tuhanku dengan Tuhanku.“, jawab Dzunnun. “Kalau tidak ada Tuhanku maka aku tidak akan tahu Tuhanku.” Lebih jauh tentang ma’rifat ia memaparkan: “Orang yang paling tahu akan Allah adalah yang paling bingung tentang-Nya.” “Ma’rifat bisa didapat dengan tiga cara: dengan melihat pada sesuatu bagaimana Dia mengaturnya, dengan melihat keputusan-keputusan-Nya, bagaimana Allah telah memastikannya. Dengan merenungkan makhluq, bagaimana Allah menjadikannya”.

Tentang cinta ia berkata: “Katakan pada orang yang memperlihatkan kecintaannya pada Allah, katakan supaya ia berhati-hati, jangan sampai merendah pada selain Allah! Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah dia tidak punya kebutuhan pada selain Allah.” “Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah mengikuti kekasih Allah Nabi Muhammad Saw dalam akhlak, perbuatan, perintah dan sunnah-sunnahnya.” “Pangkal dari jalan (Islam) ini ada pada empat perkara: “cinta pada Yang Agung, benci kepada yang Fana, mengikuti pada Alquran yang diturunkan, dan takut akan tergelincir (dalam kesesatan)”.

Karomah Dzunnun al-Misri

Imam al-Nabhani dalam kitabnya “Jami’ al-karamaat“ mengatakan: “Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami: “Suatu ketika aku menghadap pada Dzunnun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emas dan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku “engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam keadaan bergembira.” Menjelang aku pamit beliau memberiku satu dirham. Dengan izin Allah uang yang hanya satu dirham itu bisa aku jadikan bekal sampai kota Balkh (kota di Iran).

Suatu hari Abu Ja’far ada di samping Dzunnun. Lalu mereka berbicara tentang ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah. Dzunnun mengatakan “Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada ranjang tidur ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya.” Maka ranjang itu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya.

Imam Abdul Wahhab al-Sya’roni mengatakan: “Suatu hari ada perempuan yang datang pada Dzunnun lalu berkata “Anakku telah dimangsa buaya.” Ketika melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzunnun datang ke sungai Nil sambil berkata “Ya Allah… keluarkan buaya itu.” Lalu keluarlah buaya, Dzunnun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam keadaan hidup dan sehat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata “Maafkanlah aku, karena dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu. Sekarang aku bertaubat kepada Allah Swt.”

Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup waliyullah, sufi besar Dzun Nun al-Misry yang wafat pada tahun 245 H. semoga Allah me-ridlai-nya.

Sumber : www.al-hasani.com & kitab klasik.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.