Al-Luma

Rezeki
Yahya bin Mu’adz -rahimahullah- mengatakan, “Dalam wujud (keberadaan) seorang hamba, rezeki tanpa harus dicari, dan itu membuktikan bahwa rezeki diperintah untuk mencari pemiliknya.”
Sebagian kaum Sufi mengatakan, “Apabila saya mencari rezeki sebelum waktunya maka saya tidak akan mendapatkannya dan apabila saya mencarinya setelah lewat waktunya saya juga tidak akan mendapatkannya dan apabila saya mencarinya tepat pada waktunya maka saya akan tercukupi.”
Diceritakan dari Abu Ya’qub -rahimahullah- yang berkata: Orang-orang berbeda pendapat tentang sebab-sebab datangnya rezeki. Sebagian kaum mengatakan, bahwa sebabnya rezeki adalah berusaha dan bekerja keras. Ini adalah pendapat orang-orang Qadariyah. Sementara itu sebagian kaum yang lain mengatakan, bahwa sebabnya rezeki adalah taqwa.
Mereka berpendapat demikian atas dasar lahiriah ayat al-Qur’an:
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.”
(Q.s. ath-Thalaq: 2-3).

Harus dibaca juga..

Mereka telah keliru dalam pendapatnya. Sementara Ilmu yang ada di sisi Allah, bahwa sebabnya rezeki ialah karena penciptaan. Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt.:
“Allah-lah yang menciptakan kalian, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”
(Q.s. ar-Rum: 40).

Allah tidak mengkhususkan pemberian rezeki-Nya kepada orang mukmin saja, tetapi juga orang kafir.
Abu Yazid bercerita: Saya pernah memuji baik seorang murid di hadapan sebagian ulama. Kemudian orang alim (ulama) tersebut bertanya, “Dari mana penghidupannya?” Saya menjawab, “Saya tidak pernah meragukan Penciptanya sehingga saya harus bertanya siapa yang memberinya rezeki.” Orang alim tersebut merasa malu lalu ia tidak melanjutkan.

Masalah 1
Al Junaid -rahimahullah- ditanya, “Bagaimana bila nama seorang hamba telah hilang dan yang tetap tinggal hanya hukum Allah?” Maka la menjawab, “Perlu Anda ketahui – semoga Allah memberi rahmat kepada Anda – bahwa jika ma’rifat kepada Allah (Ma’rifat Billah) telah menjadi agung dan tinggi, maka bekas-bekas hamba akan menghilang dan simbol-simbolnya akan terhapus. Pada saat itu tampaklah ilmu al-Haq dan yang tersisa adalah nama hukum Allah Swt.”
Al Junaid -rahimahullah- pernah ditanya, “Kapan seorang hamba menganggap sama antara orang yang memuji dengan orang yang mencacinya?” la menjawab, “Ketika la menyadari bahwa ia hanyalah seorang makhluk dan bahan fitnahan.”

 

Ibnu Atha’ -rahimahullah- ditanya, “Kapan la mendapatkan kedamaian hati? atau Dengan apa la bisa meraih kedamaian hati?” la menjawab, “Yaitu dengan memahami haqul-yaqin, yaitu al-Qur’an, kemudian la diberi ilmul-yaqin dan setelah itu la melihat ainul-yaqin. Pada saat itu hatinya akan merasa tenteram. Sedangkan ciri-cirinya adalah ridha atas takdir yang telah ditentukan-Nya dengan perasaan penuh wibawa dan cinta serta menganggap-Nya sebagai Pelindung dan Dzat Yang diserahi tanpa ada perasaan curiga yang mengganjal.”

Abu Utsman -rahimahullah- ditanya tentang perasaan sedih yang sering dialami manusia pada umumnya, sementara la tidak tahu dari mana la datang. Maka Abu Utsman menjawab, “Sesungguhnya ruh selalu mawas diri dari perbuatan dosa dan kejahatan yang senantiasa mengintai jiwa (nafsu), sementara jiwa akan melupakannya. Dan apabila ruh menemukan jiwa telah sadar, maka kejahatannya akan ditunjukkan, akhirnya ia diselimuti rasa kegelisahan dan sedih. Inilah perasaan sedih yang sering ditemukan seseorang, sementara ia tidak mengerti dari mana la masuk ke dalam dirinya.”

Firasat
Yusuf bin al-Husain -rahimahullah- pernah ditanya tentang Hadis Nabi Saw, “Hati-hatilah terhadap firasat orang mukmin karena ia melihat dengan Cahaya Allah.” Maka la mengatakan, “Ini benar dari Rasulullah dan terutama orang-orang yang beriman (mukmin). Dan ini adalah kelebihan dan karamah (kemuliaan ) bagi orang yang hatinya diberi cahaya oleh Allah dan dilapangkan dadanya. Sementara itu seseorang tidak berhak memberikan keputusan hukum untuk dirinya dengan firasat tersebut, sekalipun banyak benarnya dan sedikit sekali terjadi kesalahan. Orang yang tidak bisa memberikan keputusan hukum untuk dirinya dengan hakikat keimanan, kewalian dan kebahagiaan, lalu bagaimana ia bisa memberi keputusan hukum untuk dirinya dengan kelebihan karamah? Sebenarnya itu hanyalah kelebihan bagi orang-orang beriman tanpa harus memberi isyarat apa pun kepada seseorang.”

Fantasi (waham)
Ibrahim al-Khawwash -rahimahullah- pernah ditanya tentang waham, maka ia mengatakan, “Waham adalah pemisah yang berdiri sendiri antara akal dan pemahaman, dimana ia tidak bisa dinisbatkan pada akal sehingga menjadi bagian dari sifat-sifat akal dan tidak pula dinisbatkan pada pemahaman sehingga ia menjadi bagian dari sifat-sifat pemahaman. Namun la berdiri sendiri yang mirip dengan sinar antara matahari dengan air, dimana ia tidak bisa dinisbatkan pada matahari dan tidak pula pada air. Atau mirip dengan rasa kantuk antara tidur dan bangun terjaga, maka ia tidak bisa disebut orang yang sedang tidur dan tidak pula orang yang sedang bangun terjaga. Maka ini adalah kesadarannya, yakni kelangsungan akal pada pemahaman atau pemahaman pada akal, sehingga di antara keduanya tidak ada pemisah yang berdiri sendiri. Sedangkan pemahaman adalah intisari yang jernih dari akal, sebagaimana intisari segala sesuatu adalah isinya.”

Masalah 2
Abu Yazid -rahimahullah- pernah ditanya tentang makna firman Allah Swt.:
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.”.
(Q.s. Fathir: 32).

Maka Abu Yazid mengatakan, “Orang yang terlebih dahulu berbuat kebaikan (as-sabiq) adalah orang yang dicambuk dengan cambuk cinta (mahabbah), dipenggal dengan pedang kerinduan dan berbaring di depan ‘pintu’ kewibawaan. Sementara orang yang tengah-tengah (al-muqtashid) adalah dicambuk dengan cambuk kesedihan, dipenggal dengan pedang penyesalan lalu berbaring di depan ‘pintu’ kemuliaan. Sedangkan orang yang menganiaya dirinya sendiri (azh-zhalim) adalah dicambuk dengan cambuk harapan dan cita-cita, dipenggal dengan pedang ketamakan lalu terkapar di ‘pintu’ siksaan.”
Sementara itu kaum Sufi yang lain mengatakan, “Orang yang menganiaya dirinya sendiri akan disiksa dengan hijab (penghalang), dan orang yang berada di tengah-tengah telah masuk ke bagian dalam, sedangkan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan telah sujud di atas hamparan milik Sang Penguasa dan Maha Pemberi.”
Sedangkan yang lainnya berkata, “Orang yang menganiaya dirinya sendiri disiksa dengan penyesalan atas kecerobohannya, sedangkan orang yang tengah-tengah diselimuti dengan perlindungan dan kehati-hatian. Sedangkan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan akan bersujud dengan hatinya kepada al-Haq di atas hamparan ‘permadani’. Orang yang menganiaya dirinya akan terhalang dari memperoleh penjagaan dan as-sabiq tampak melakukan sujud di atas permadani dengan hatinya kepada al-Haq. Sementara itu orang yang menganiaya dirinya sendiri akan terhalang untuk mendapatkan isyarat, orang yang tengah-tengah akan terjaga dengan isyarat yang jelas, sedangkan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan akan selalu dicinta dengan membenarkan isyarat.”
Sementara itu ada kaum Sufi lain yang berpendapat, bahwa orang yang menganiaya diri sendiri adalah dal, orang yang tengah-tengah adalah ba’, dan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan adalah mim.

Berandai (Tamanni)
Ruwaim bin Ahmad -rahimahullah- pernah ditanya, “Bolehkan seorang murid berandai-andai?” la menjawab, “Seorang murid tidak seyogyanya berandai-andai, la hanya boleh berharap. Sebab berandai-andai adalah melihat nafsu sedang berharap adalah melihat apa yang lebih dahulu ditentukan Allah.
Berandai-andai adalah termasuk sifat-sifat nafsu, sedangkan berharap adalah sifat hati. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu.”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.