Dan beliau juga bersabda, “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.” (H.r. Muslim dari Anas dan Aisyah). Dalam Hadis ini Rasulullah menisbatkan dunia kepada para sahabatnya dan mengecualikan dirinya dari masalah dunia.
Rasulullah tidak pernah meletakkan bata di atas bata yang lain (membangun rumah) sehingga beliau wafat. (H.r. Ibnu Hibban). Saat Rasulullah saw. wafat, baju perangnya masih tergadaikan di tangan Yahudi sebagai jaminan atas pinjaman satu sha’ gandum. Beliau wafat tidak meninggalkan dinar maupun dirham. Tidak juga ada harta warisan yang harus dibagi. Di rumahnya tidak ada perabot rumah tangga. (H.r. Bukhari-Muslim dan Tirmidzi dari Aisyah).
Beliau pernah bersabda, “Kami para rasul tidak meninggalkan warisan. Sedangkan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.” (H.r. Malik, Bukhari Muslim, Tirmidzi dan Abu Dawud).
Rasulullah saw. menerima hadiah dan pemberian. Namun beliau tidak pernah makan sedekah (zakat), tapi beliau mengamblinya dari mereka untuk dibagikan kepada orang lain.
Dan diriwayatkan dari Rasulullah yang bersabda, “Allah tidak memberi wahyu kepadaku agar aku mengumpulkan harta dan kemudian menjadi seorang pedagang. Akan tetapi Allah swt. memberi wahyu kepadaku dengan perintah: “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Q.s. al-Hijr: 98-9).
Diriwayatkan dari Aisyah r.a. yang berkata, “Kami pernah menyembelih seekor kambing dan kami sedekahkan semuanya kecuali bagian pundak (kaki depan). Kami pun bilang kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, semuanya habis kecuali kaki depannya!’ Rasulullah menjawab, ‘Semuanya akan menjadi kekal kecuali kaki depannya’.” (H.r. Tirmidzi).[pagebreak] Allah swt. berfirman: “Nun, demi al-Qalam (Pena) dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagimu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.s. al-Qalam: 1-4).
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai akhlak yang mulia dan benci akhlak yang rendah.” (H.r. al-Hakim dari Sahl bin Sa’ad, Ibnu Majah, Abu Nuaim dan ath-Thabrani).
Beliau juga bersabda, “Saya diutus dengan membawa akhlak yang mulia.” (H.r. Malik dan Ahmad).
Di antara kemuliaan akhlak Rasulullah saw. adalah memiliki rasa malu yang tinggi, dermawan, tawakal, ridha, dzikir, syukur, sabar, pemaaf, penuh toleran, penuh asih, belas kasih, suka memberi nasihat, ketenangan, berwibawa, rendah hati, sedikit harta, suka memberi, kokoh pendirian, pemberani, ikhlas, jujur, zuhud, puas dengan apa yang ada, khusyu’, selalu takut kepada Allah, selalu rnengagungkan, disegani, selalu berdoa dan sering menangis, penuh harapan kepada Allah dan selalu menggantungkan diri kepada-Nya, bertahajud dan beribadah. Hari-harinya adalah Jihad dan mujahadah.
Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Nabi saw. selalu sedih, selalu merenung (tafakur). Di dadanya ada suara gemuruh laksana gemuruhnya periuk yang sedang berisi air mendidih. (H.r. ath-Thabrani dari Hasan bin Ali, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Hazin dan Ibnu Hibban).
Juga diriwayatkan bahwa, Rasulullah saw. shalat sehingga kedua kakinya bengkak. Kemudian Aisyah bertanya, “Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa tuan, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?” Maka Rasulullah menjawab, “Apakah aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” (H.r. Bukhari-Muslim dari Aisyah, Tirmidzi dan an-Nasa’i dari al-Mughirah bin Syu’bah).
Rasulullah akan memberi kepada orang yang tidak pernah memberinya, selalu menyambung persaudaraan dengan orang yang memutus hubungan dengannya dan memaafkan kepada orang yang menganiayanya. Rasulullah tidak pernah menghukum dan marah kepada siapa pun hanya karena kepentingan pribadinya, kecuali bila orang yang dihukum tersebut karena melanggar larangan-larangan Allah. Maka beliau akan marah karena Allah. (H.r. Bukhari dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash).
Beliau kepada para janda laksana seorang suami yang sangat penyayang, dan kepada anak-anak yatim laksana seorang ayah yang penuh kasih sayang.
Beliau pernah bersabda, “Barangsiapa meninggalkan harta, maka itu menjadi milik ahli warisnya, dan barangsiapa meninggalkan istri sebatang kara atau anak-anak terlantar maka hendaknya kepadaku.” (H.r. Ahmad, Bukhari-Muslim, an-Nasa’i dan 1bnu Majah dari Abu Hurairah).
Rasuluilah saw. pernah berdoa: “Ya Allah, sesungghnnya aku adalah manusia yang bisa marah sebagaimana orang lain marah. Maka jika ada orang yang aku lecehkan atau aku laknat maka jadikanlah itu sebagai kaffarat (tebusan) dosanya.” (H.r. Bukhari-muslim, dari Abu Hurairah, dan Ahmad).
Anas bin Malik r.a. berkata, “Aku mengabdi kepada Rasulullah saw. selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah memukulku dan tidak pernah membentakku. Tidak pernah menegur apa yang aku kerjakan dengan ucapan, ‘Mengapa engkau mengerjakan ini?’, dan tidak pula menegur apa yang tidak aku lakukan dengan ucapan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan itu?’.” (H.r. Bukhari-Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).
Andaikan bukan karena kemuliaan, pemaafan dan kesabaran yang ada pada diri Rasulullah saw. tentu di saat penaklukan kota Mekkah (Fathu Makkah) merupakan kesempatan besar bagi Rasulullah untuk membalas orang-orang kafir Quraisy. Ini merupakan bukti nyata akan kesempurnaan akhlak beliau yang sangat tinggi.




