Assalamu’alaikum Wr. Wb
Pak Ustadz, saya adalah seorang guru agama di sebuah SMU di Jakarta. Bapak tahu sendiri bagaimana pergaulan bebas mereka, dan model kehidupan mereka.
Ketika mereka diberi pelajaran agama, seringkali mereka itu hanya numpang lewat belaka, seakan-akan agama itu tidak penting asal dapat nilai.
Diantara siswa saya ada yang cukup patuh, tetapi juga ada yang sedang-sedang saja, dan ada yang sering mengabaikan ibadah. Rasanya saya sangat bersalah dan dosa sebagai guru agama.
Saya ingin dan merindukan kelak para generasi muda khususnya para siswa benar-benar berpegang pada agama Allah swt, apa pun profesi mereka. Apa ini salah saya, atau salah mereka (karena lingkungan keluarga dan pergaulan?) atau ada faktor-faktor dari luar yang mencoba menghancurkan generasi muda kita? Mohon kami diberi solusi…
Wasalamu’alaikum Wr. W
Ibra Hasymi – Ibrah@xxxx.com
Jawab:
Kalau mencari siapa yang salah, ya salah semua. Mulai dari orang tua, guru, lingkungan, system pendidikan, dan factor-faktor luar.
Tetapi saya bangga, jika anda sebagai guru agama merasa prihatin benar dengan situasi ini. Dari sisi anda sebagai guru agama, musti memulai dari diri anda dulu, dengan sejumlah pertanyaan yang anda harus jawab dengan sejujur-jujurnya:
Apakah dalam diri anda ada rasa tanggungjawab menghantar murid anda selamat sampai ke akhirat?
Apakah anda selalu mendoakan murid-murid anda setiap habis sholat, “Semoga murid-murid yang saya asuh diberi tetap iman, terang hatinya, selamat dunia akhiratnya, ilmunya manfaat dunia akhirat, sholeh dan sholihah”?
Apakah anda pernah men-survey mereka, sejauh mana pengamalan agama di rumah masing-masing atau di sekolah, dan apa yang menjadi kendala selama ini?
Pernahkah anda menemui orang tuanya, agar memperhatikan dan mendoakan putra-putrinya setiap hari?
Apakah anak-anak itu juga berdoa setiap berangkat sekolah, setiap mau belajar apa saja, dan setiap melakukan aktivitas apa saja?
Anak-anak siswa sekarang juga kehilangan “orang tua spiritual” di sekolah, karena mayoritas para guru agama sendiri pun, merasa bahwa mengajar sekadar profesi, bukan sebagai tanggungjawab paling mulia yang harus diemban. Sangat langka para guru yang menganggap para siswanya seperti anak sendiri, sementara para siswa itu sering kehilangan kasih sayang yang hakiki di rumahnya.
Efek inilah yang menimbulkan gejolak para remaja kita yang dilampiaskan dengan cara yang tidak positif, dan lebih terwakili oleh gaya hidup modern, serba artis, serba hedonis dan konsumtif. Apa jadinya jika 20 tahun lagi mereka jadi pejabat dan pemimpin negeri ini?




