Adab Sang Fakir

Harus dibaca juga..

Syekh Abu Nashr as-Sarraj rahmatullah berkata:
Di antara adab para fakir Sufi dalam menyikapi apa yang diberikan Allah kepada mereka dengan tanpa terlebih dahulu meminta dan berharap hendaknya tidak mengucapkan, “Ini milikku, dan ini milik Anda.” Sementara dalam pembicaraan mereka tidak boleh ada kata-kata, “Aku adalah untuk Anda, sementara Anda bukan untukku. Aku berbuat demikian semoga menjadi demikian. Aku tidak melakukan demikian, semoga demikian.”

Dikisahkan dari Ibrahim bin Syaiban rahmahullah yang berkata, “Kami tidak pernah bersahabat dengan orang yang mengatakan, ‘Ini adalah sandalku dan tempat minumku’.”
Abu Abdillah Ahmad al-Qalanisi dimana la adalah guru al-­Junaid berkata, Aku pernah mendatangi sekelompok orang­orang fakir di Basrah. Kemudian mereka menghormati dan meng­agungkanku. Suatu saat aku pernah mengatakan kepada salah seorang di antara mereka, Dimana sarungku? Maka sejak saat itu aku jatuh dan rendah dalam pandangan mereka.”

Abu Ishaq Ibrahim bin al-Muwallad ar-Raqqi berkata, “Saya pernah masuk di Tharasus. Kemudian dikatakan kepadaku, “Di sini ada sekelompok orang dari saudara-saudara Anda yang ber­kumpul di suatu rumah. “Kemudian saya masuk menemui mereka, dan saya melihat ada tujuh belas orang fakir yang sehati.”
Dikatakan kepada Abu Abdillah Ahmad al-Qalanisi rahima­hullah, “Atas dasar apa Anda membangun madzhab Anda?” Kemudian la menjawab, Atas dasar tiga perkara:

  1. Kami tidak pernah menuntut manusia atas hak-hak kami;
  2. Kami menuntut diri kami sendiri untuk menunaikan hak-hak orang lain; dan
  3. Memastikan diri kami berbuat kealpaan terhadap semua yang kami lakukan.

Sebagian kaum Sufi berkata, Kami membangun landasan dasar madzhab kami atas tiga perkara:

  1. Selalu mengikuti perintah dan menjauhi larangan;
  2. Memeluk erat kefakiran; dan
  3. Belas-kasih pada semua makhluk.

Sementara kaum Sufi yang lain berkata, “Jika Anda melihat seorang fakir telah merosot dari tingkatan hakikat menuju ke tingkatan ilmu (syariat), maka Anda perlu tahu, bahwa ia telah menghapus keinginan kuatnya dan melepas tali pengikatnya.” Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Bukan termasuk adab kaum fakir (kaum Sufi) orang yang masih memiliki sebab (sarana) yang akan dirujuknya kembali ketika la membutuh­kannya, atau memiliki dua tangan untuk melakukan suatu peker­jaan tatkala ia menghendaki, atau lisan yang ia jadikan alat meminta tatkala ia lapar, atau keinginan kuat yang la akan pergi kepada orang lain ketika dalam kondisi kesulitan. Dimana semua ini bagi mereka merupakan sarana dan simpanan ketika dalam kondisi krisis dan sarana yang bisa memberi.”

Al Junaid rahimahullah berkata, “Jika Anda berjumpa dengan orang fakir maka sambutlah dengan penuh kasih, dan jangan sambut la dengan ilmu. Sebab kelembutan dan kasih sayang akan penghiburnya, sedangkan ilmu akan membuat gelisah.”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.