Adab Dalam Shalat

Di antara adab mereka adalah tidak suka menjadi imam, tidak senang shalat di barisan (shaf pertama, baik di Mekkah atau di luar Mekkah).
Mereka juga sangat tidak suka memperlama shalat.
Adapun ketidaksukaan mereka menjadi imam, meskipun mung­kin mereka hafal al-Qur’an dan lebih memilih menjadi ma’mum di belakang orang yang bisa membaca al-Fatihah dan surat-surat lain dengan baik adalah karena sabda Rasulullah Saw:
“Imam itu menanggung (ma’mumnya), sedangkan mu’adzin adalah orang yang dipercaya.“ (H.r. Ibnu Hibban dari Aisyah, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Huzaimah dari Abu i Hurairah, dan Ahmad dari Abu Umamah).

Harus dibaca juga..

Sedangkan ketidaksukaan mereka berada di shaf awal adalah untuk menghindari berebut dengan orang-orang pada umumnya berdesakan. Karena pada umumnya orang-orang selalu berebut untuk bisa shalat di shaf terdepan. Meskipun dalam sebuah hadist disebutkan bahwa di shaf awal memiliki ke­utamaan, namun mereka lebih mengutamakan orang lain. Namun jika shaf awal itu kosong mereka juga akan menggunakan kesem­patan utama itu dengan sebaiknya.
Sedangkan keengganan mereka untuk memperlama shalat, maka gangguan alpa dan was-was juga akan semakin banyak. Sementara itu sibuk dengan keabsahan amal itu lebih baik dibanding dengan amalan-amalan banyak dan lama.

Diriwayatkan, “Bahwa Rasulullah Saw. adalah orang yang paling ringan shalatnya dengan penuh kesempurnaan.” (H.r. Malik, Bukhari-Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i).

Saya mendengar Ibnu `Alwan -rahimahuliah -berkata, “A Junaid -rahimahullah – sekalipun sudah sangat lanjut usia dan lemah tenaganya, ia tidak pernah meninggalkan wirid-wiridnya. Kemudian ia ditanya tentang hal itu. Maka ia menjawab, `Ini adalah kondisi ruhani, dimana dengan kondisi ruhani ini saya bisa `sampai’ kepada Allah Swt, di awal hidupku. Lalu bagaimana saya bisa meninggalkannya di ujung hidupku?’.”
Di antara adab mereka dalam shalat adalah, bahwa shalat itu memiliki empat cabang:
* Hadirnya hati di mihrab,
* Kesaksian akal di sisi Sang Maha Pemberi,
* Kekhusyu’an hati tanpa ada keraguan dan
* Tunduknya anggota badan tanpa terpaksa.

Sebab dengan hadirnya hati akan menyingkap hijab, sedangkan dalam kesaksian akal akan menghilangkan cercaan dan teguran dari Allah, dalam kekhusyu’an hati akan membuka pintu-pintu Tuhan dan dengan menundukkan anggota badan akan ada pahala.

Maka barangsiapa shalat namun hatinya tidak pernah hadir, ia adalah orang yang shalat dengan alpa. Barangsiapa shalat de­ngan tanpa kesaksian akal, maka ia adalah orang yang shalat dengan lupa. Dan barangsiapa shalat dengan tanpa kekhusyu’an hati maka ia adalah orang yang shalat dengan kesalahan. Barangsiapa shalat tanpa menundukkan anggota badan maka ia shalat dengan anggota yang merenggang dan jauh dari Tuhannya.

Sedangkan orang yang sanggup melakukan semuanya dengan sempurna maka ia adalah orang yang shalat dengan memenuhi syarat shalat.
Inilah sebagian yang bisa saya hadirkan saat ini dari adab-adab mereka dalam shalat. Semoga Allah memberi taufik kepada
kita. 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.