Assalamu’alaikum wr.wb
Mohon Ustadzadz memberikan nasihat dan solusi untuk saya, dan sebelumnya saya minta maaf kalau ada salah kata. Langsung saja, saya pemuda lajang yang masih
tinggal dan kerja bersama orang tua, pernah sih kerja diluar tapi hanya sebagai karyawan pabrik. Tapi setelah tau orang tuaku kerja usaha produksi bangkrut lalu aku putuskan keluar dari pabrik dan membantu orang tua agar bangkit lagi. Dan Alhamdulillah berjalan sampai sekarang (±6 tahun).
Tiga tahun pertama keuangan dipegang orang tua, dan berjalan dengan baik dan rumah adem ayem seperti surga, tetapi setelah akhir tahun kami mengalami down (bangkrut) banyak hutang dan rumah pun jadi panas seperti neraka, perang mulut sering terjadi.
Lalu saya mulai cari tahu dimana kelemahan kami,setelah setahun akupun tahu kelamahan kami, yaitu pengeluaran tambah banyak dan orderan menurun, lalu semua pemasukan kupegang, dan kucatat. Yang kuharap sih agar saya bisa mengntrol pengeluaran kami, tapi ternyata tidak bisa malah kebutuhan keluarga bertambah.
Satu tahun pun berlalu dan waktunya tutup buku pas diawal bulan suci. Hasilnya hutang tambah numpuk, orang tua pun tambah marah-marah, lalu saya sodorkan saja catatan-catatan saya dalam setahun, tapi orang tua tidak merasa/percaya telah menggunakan sekian banyak.
Lebaran tiba baru dapat bicara dengan dingin dan hasilnya semua diserahkan kepadaku termasuk hutang-hutangnya yang diatas namakan saya.
Sayapun hanya bisa bilang iya dan minta doanya. Terus sayapun berusaha dan mencoba untuk memperbaikinya lagi, dan kebetulan orang yang meminjami kami sekarang malah nawarin modal lagi berupa bahan yang saya produksi, saya pun menerimanya karena saya sudah tak ada modal lagi.
Satu bulan, dua bulan Alhamdlillah berjalan lancar, tapi selanjutnya mulai lagi, pengeluaran keluarga bertambah dan bertambah, akupun tak bisa menyegahnya, karena kalau dicegah rumah ini rasanya seperti neraka yang mengganggu ibadah saya.
Bulan suci tiba dan waktunya tutup buku, dan hasilnya tambah runyam. Hutang tambah banyak, dan orang tua tambah marah-marah. Apalagi hutang saya harus lunas bulan ini, saya carikan kemana..?
Sedangkan saya tak punya apa-apa. Saya pun sudah mencoba untuk diberi kelonggaran, tapi ia tidak mau tahu pokoknya sebelum lebaran harus lunas kalau tidak ia akan menyita tempat tinggal kami, padahal tempat itu bukan tempat saya tapi punya orang tua saya. Lalu saya coba bicara sama orang tua, dia malah tambah marahnya dan ngomong yang tidak-tidak. Lalu saya datang lagi ketempat orang yang meminjami saya untuk meminta kelonggaran lagi, ia bilang kalau yang minta kelonggaran itu orang tua saya munkin akan diberi kelonggaran lagi.
Akupun bicara sama orang tua dengan baik-baik apa yang dikatakanya, tapi jawabanya sama saja. Mungkin kalau aku tahu endingnya seperti ini mungkin dulu aku tak mau bekerja untuk keluarga.



