Editorial Majalah Cahaya Sufi Edisi 56 2009
Hampir mayoritas manusia mengalami konflik batin (tanazu’ul bawathin), dan berkembanglah pengetahuan mengenai soslusi konflik batin ini dari berbagai agama, budaya dan pengetahuan. Menjadi semakin rumit dan pelik ketika orang yang mengalami konflik batin ini mulai memaksa diri, agar solusinya sesuai dengan seleranya.
Dalam situasi seperti itu, lebih banyak kabur dan serba jumbuh masalah yang dihadapi, karena mata batinnya tertimpuk oleh tumpukan sampah masalah, sementara ia akan menghadapi dan ingin menyelesaikannya. Bagaimana mungkin bisa? Melihat pasir dari dalam tumpukan pasir?
Itulah pentingnya kembali kepada Sang Pencipta Kehidupan ini. Karena dari pantulan Cermin-Nya, segalanya jadi jelas, bersih dan tulus. Dalam Al-Qur’an ada ayat, “Fain Tanaaza’tum fii Syaiin Farudduuhu Ilalloh wa-Ilar Rasul” (Jika kalian mengalami konflik dalam satu hal, maka kembalilah kepada Allah dan Rasul).
Kembali kepada Allah dengan melepaskan segala hal selain Allah, dan anda menghadap Allah, tanpa mengingat sedikit pun masalah anda. Full Allah dalam jiwa anda, dan Full Rasulullah dalam gerak gerik batin anda, melalui sholawat Nabi saw, dan peneladanan jejaknya.
Bukan kembali pada nafsu kita, pikiran kita, kebudayaan kita, atau pun selera-selera makhluk lainnya. Tentu, semua ini butuh kesatriaan, keberanian, dan kesahajaan.




