Apa itu Kebutuhan Besar?

Abu Bakr al-Wasithy ra, mengatakan, “Seorang hamba tidak mengenal Allah dengan sejatinya ma’rifat, manakala ia tidak mengenal ‘kebutuhan besar’nya.”

Harus dibaca juga..

Beliau ditanya, “Apa itu kebutuhan besar?”
“Hendaknya ia tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan hidayah  mengenal Allah Swt, kecuai oleh Allah Swt, dan tidak akan selamat dari kebencian Allah Swt, kecuali bersama dengan Allah Swt.”

Disebutkan bahwa rasa butuh kepadaNya adalah bendera para wali.
Dikatakan pula, “Rasa butuh padaNya adalah melemparkan jiwa di hadapanNya, seperti anak bayi di haribaan bundanya.”

Rasa butuh kepadaNya adalah rampung dalam pelaksanaan menjaga diri, menjaga diri dalam kewalian, kewalian dan pertolongan, dan pertolongan dalam hidayah.

Siapa yang tidak rampung dengan urusan makhluk, ia tidak mendapatkan penjagaan diri, dan siapa yang tidak menjaga dirinya tidak meraih wilayah Ilahi, siapa yang tidak meraih wilayah tidak meraih ‘inayah, dan siapa yang tidak meraih ‘inayah tidak meraih hidayah.

Siapa yang ingin masuk golongan mereka yang membutuhkan Allah Swt, (ahlul iftiqor), jangan sampai berasumsi atas kebaikan diri dan keluarganya, hendaknya ia luruh di hadapanNya, dan hendaknya ia putus asa terhadap selain Allah   disertai sangat butuh kepadaNya. Sebagaimana seseorang berada di sumur yang gelap, di atas bibir sumur sedang tertutup, sama sekali tidak ada kesenangan dalam sumur itu, apalagi tidak ada orang yang lewat di atas sumur. Apakah ada yang dibutuhkan dan diharapkan selain Tuhannya?

Dalam kisahnya, ada orang saleh terjebur sumur di tengah pelosok dalam keadaan menderita. Lalu di atas sumur itu berlalu kafilah, orang itu berteriak-teriak dari dalam sumur, lalu muncul suara tanpa rupa tanpa suara, “Apakah kamu meminta pertolongan selain Aku? Sedangkan Aku adalah Maha Penolong orang yang minta tolong?”

Orang itu pun terdiam. Tiba-tiba kafilah itu malah merapatkan tutup sumur, mereka malah ingin mengubur orang itu, agar tak seorang pun jatuh di sumur itu. Lalu orang itu putus asa dan harapannya terhadap sesama putus. Lalu ia munajat:

“Oh Tuhanku, sekarang tidak ada yang lain kecuali Engkau, dan aku sangat butuh kepadaMu.”
Tiba-tiba Allah mengutus harimau untuk membuka tutup sumur, dan anehnya harimau itu turun ke dalam sumur, lalu mencengkeram orang tersebut untuk dinaikkan ke atas sumur, lalu ada suara dari atas, “Jangan putus hatimu pada yang menyelamatkanmu, karena kebinasaan demi kebinasaan…!”
Ketahuilah bahwa Allah Swt ketika memposisikan firmanNya “IyyaKa na’budu” (hanya kepadaMu kami menyembah) menunjukkan keparipurnaan pemenuhan ubudiyah yang benar. Kemudian menunjukkan betapa sempurnanya kelemahan si hamba dan ketakberdayaannya, lalu Allah Swt memberikan kalimat lain, dan memadukan kebajikan dua alam dunia dan akhirat, yaitu firmanNya, “IyyaKa nasta’in” (hanya kepadaMu kami memohon pertolongan).

Setiap Hak bagi Allah atas hambaNya berada di bawah “IyyaKa na’budu”, dan setiap kebutuhan hamba kepada Allah Ta’ala, dibawah, “IyyaKa nasta’in.”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.