Dalam gerbang Kafe Sufi, bulan ini tertulis ukiran hadits Nabi berbunyi: “Islam itu jelas (lahiriah), dan Iman itu ada dalam qalbu, sedangkan Taqwa di sini.” Rasulullah saw, mengulang sampai tiga kali sembari menujuk dengan tangannya ke arah dada beliau.”
Para pelanggan kafe itu selalu memandangi tulisan itu setiap mau masuk Kafe Sufi. Sembari menahan nafas, mereka biasanya langsung memasuki pancuran air untuk ambil air wudhu, baru masuk ke kafe.
“Menu istemewa hari ini, Makanan dan Minuman Ketaqwaan…” begitu kata Public Relation Kafe tersebut.
“Resepnya apa Mas, agar kita nikmati benar-benar segar dan tenteram?” Tanya seorang peng-kafe yang yang rutin berlangganan setiap malam jum’at.
“Sebelum bicara resep Pak, yang jelas Taqwa yang bisa menetap di qalbu, lalu membuat iman menjadi kokoh, dan taqwa yang demikian adalah ruh ma’rifat.”
Seluruh hadirin lalu bergumam seperti suara tawon, “Astaghfirullaahal ‘Adziiim….!”
Pelayan itu tersenyum dengan bibir yang membentuk tulisan aneh dalam lekuk bibirnya. “Ridho” begitu bunyi tulisan dibalik lekuk bibirnya itu.
Lalu seorang pelanggan Kafe itu ada yang berdiri, dan berorasi. “Saudaraku yang mulia! Sesungguhnya Allah swt, menjadikan segalanya dengan kepastian, dan setiap kepastian itu ada batasan, dan setiap batasan ada sebabnya, setiap sebab ada waktunya, dan setiap waktu ada ketentuannya, setiap ketentuan ada perintah, setiap perintah ada makna, dan setiap makna ada benarnya, setiap yang benar ada kebenarannya, dan setiap kebenaran ada hakikatnya, setiap hakikat ada ahlinya, dan setiap ahlinya ada tandanya.
Dengan tanda itu bisa diketahui siapa yang berbuat benar dan siapa yang berbuat batil. Setiap qalbu didudukkan di hamparan perwujudan ma’rifat, dimana kema’rifatan itu memantul pada wajahnya dan berpengaruh pada gerak gerik lahiriahnya, tindakan dan ucapannya,
sebagaimana firman Allah swt:
“Kamu sekalian mengenal mereka dengan tanda-tanda mereka.”Rasulullah saw, bersabda: “Siapa yang menyembunyikan rahasia jiwa, Allah memakaikan padanya pakaian rahasia jiwa. Jika ia baik, maka menjadi baik. Jika ia buruk, maka jadi buruk.”
Semuanya senyap, tiba-tiba para pelayan sudah menyediakan sajian di atas meja luas dan panjang.
Di tengah hamparan meja itu tertulis satu menu utama. “Taqwa dan bumbu serta cara memasaknya….hehehe….” Begitu tulisan itu sembari diakhiri sindiran pada diri sendiri. Khususnya yang sudah merasa kenyang pada makanan taqwa. Tentu yang memakai baju taqwa untuk pamer ketaqwaannya jadi neg nafsunya.
Sang pelayan ganti bicara. “Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Sebelum memakan dan meminum makanan Taqwa, sebelumnya hendaklah
bapak-bapak mencuci tangan dengan air taubat. Mencuci muka dengan air cinta. Mencuci kaki dengan air istiqomah….”
“Masakan Taqwa ini terdiri dari Biji Iman yang ditanam di bumi Yaqin. Biji ini dikupas dengan pisau tafakkur dan dilembutkan dengan keikhlasan dan tawakkal.
Campurlah dengan garam istighfar, ditambah dengan segenggam rempah-rempah kepasrahan untuk penyedap rasa ruh dalam qalbu, kemudian wewangian mahabbah yang ditabur dengan sepoi angin rindu akan meningkatkan hasrat maqom taqwa.
Siapkan tungku dada yang lebar yang dibersihkan dengan ilmu-ilmu syariat, lalu diletakkan di atas perapian yang bisa membakar seluruh nafsu dan syahwat, sehingga kehangatan apinya menjadi semangat terus menerus menuju kepada Sang Pencipta.
Saudara-saudara sekalian, setelah menghabiskan makanan nanti, lanjutkan dengan menyendiri bersama Allah penuh dengan kemesraan. Mendekat kepada Allah swt, menghadap total, dan berangkat kepadaNya penuh kepatuhan. Maka Allah swt, memberikan pakaian cahaya ma’rifatNya kepada kita, yang didalamNya kita bicara, dan bagiNya kita beramal, dariNya kita mencari, kepadaNya kita bersukacita. Kita masuk di ruang kaum istemewaNya (khawash) yang terdepan. Langkah kita dalam taat kepada Allah swt, tanpa sedikit pun bergantung pada lainNya, Disana kita dengar mereka menasehati khalayak umum tanpa sedikit pun ada pamrih. Karena mereka senantiasa merindu, kembali kepada Allah swt, qalbunya penuh rasa takut, jiwanya penuh rasa gentar, hati mereka adalah IstanaNya, akal mereka terselubungi, ruh mereka membubung luhur, dan semuanya terlindungi dengan hatinya dari fitnah manusia. Dzikir mereka menjaganya dari waswas buruk, dadanya melapang luas, dan jasadnya terbuang dari khalayak, qalbunya terluka, sedang pintu-pintu alam malakut senantiasa terbuka bagi mereka.”



